Minggu, 18 April 2010

Obat doping

Sydney, Kegiatan belajar bagi banyak siswa, mahasiswa atau karyawan mungkin terasa cukup sulit terutama mereka yang punya kemampuan otak di bawah rata-rata. Jika sudah begitu, mungkin perlu ada obat yang bisa membuat kecanduan belajar. Peneliti pun sudah merancangnya.

Dalam Journal of Medical Ethics, psikolog dari University of Sydney, Australia mengatakan bahwa obat doping belajar yang disebut 'nootropik' bisa saja dibuat dan didesain untuk membantu orang-orang yang punya masalah kognitif (pemahaman) dan juga meningkatkan performa akademis.

Namun obat itu masih menjadi kontroversi di kalangan peneliti karena dikhawatirkan dapat membahayakan fisik, mental, membuat pemakai kecanduan dan konsumsi yang tidak terkontrol. Peneliti mengkhawatirkan efek samping tersebut lebih besar daripada tujuan utama penggunaan obat itu sendiri.

Menurut survei, sepertiga pelajar di Amerika saat ini menggunakan obat-obatan penguat daya otak seperti Amphetamines dan Methylphenidates yang dikenal dengan nama dagang Dexedrine and Ritalin. Mereka percaya kemampuan akademisnya bisa meningkat dengan mengonsumsi obat tersebut.

Namun obat doping akademis yang rencananya dibuat oleh peneliti itu sebenarnya lebih ditujukan pada orang-orang yang memiliki gejala hiperaktif atau ADHD (Attention-Deficit Hyperactivity Disorder) dan juga orang-orang yang punya kebiasaan tidur yang berlebih (tidak terkontrol) agar mereka bisa lebih fokus belajar.

Obat yang mengandung modafinil dan dikenal dengan Progivil itu bisa meningkatkan memori, sama halnya dengan obat-obatan yang digunakan untuk membantu penderita penyakit Alzheimer, yaitu galantamine (Reminyl), piracetam (Nootropil) dan selegiline (Deprenyl).

"Kemungkinan membeli 'obat pintar' itu tidak hanya untuk penderita ADHD atau kelebihan tidur, tapi juga untuk para pelajar dengan kemampuan belajar di bawah standar," ujar Cakic, seorang peneliti yang mengembangkan obat tersebut seperti dilansir Health24, Jumat (2/10/2009).

Namun kemunculan obat dopping tersebut tetap saja perlu diwaspadai, mengingat obat dopping untuk olahraga juga tidak baik untuk kesehatan. Lagipula jika pemakaian obat tersebut tidak dibatasi, bisa-bisa pelajar bodoh bisa disulap menjadi pelajar jenius.

"Bisa muncul keganjilan dimana semua cum laude adalah hasil dari pemakaian obat modafinil, tapi di satu sisi para cum laude itu menderita gangguan mental akibat efek sampingnya yang berbahaya. Jadi perlu rekomendasi khusus untuk obat tersebut," ujar Cakic.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar